Surat Keluarga April 2017

050916092345_paus-fransiskus-nobatkan-bunda-teresa-sebagai-orang

_KARENA KITA INI BUATAN ALLAH, DICIPTAKAN DALAM KRISTUS YESUS UNTUK
MELAKUKAN PEKERJAAN BAIK, YANG DIPERSIAPKAN ALLAH SEBELUMNYA. IA MAU,
SUPAYA KITA HIDUP DI DALAMNYA._
(EFESUS 2:10)

Keluarga-keluarga di KAJ yang terkasih, Semoga Paskah tahun ini membawa
kegembiraan sendiri dan membuat Anda merasa bahwa Paskah ada artinya
untuk Anda dan keluarga, selain perasaan gembira karena sudah mengikuti
upacara terbesar sepanjang tahun liturgi ini. Semoga peristiwa
kebangkitan menjadi pesta seluruh keluarga yang merasa dipulihkan,
dibarui, dan dikasihi oleh Yesus, Sang Domba Paskah sejati.

Peristiwa Paskah adalah peristiwa dukacita mendalam yang berubah menjadi
kabar keselamatan kekal: Yesus yang menderita, wafat dan dimakamkan,
kini bangkit mulia dengan jiwa raga-Nya. Kedukaan sebuah keluarga
menjadi keselamatan bagi orang-orang yang percaya. Melalui peristiwa
Yesus, setiap keluarga mendapat ispirasi untuk terus menjalani hidupnya,
meskipun tidak selalu mudah.

Sebuah keluarga menanyakan kepada saya mengenai makna puasa dan pantang
dalam hidupnya. Sang suami bertanya, apakah ia boleh tidak berpuasa,
karena ia merasa beban hidupnya sudah cukup berat menanggung seorang
anak berkebutuhan khusus dan pekerjaan yang sedang berada dalam
penurunan besar. ia merasa hidupnya saja sudah mengisyaratkan salib,
sehingga ia tak perlu bermatiraga.

Adakah orang di dunia ini yang benar-benar merasa dibebaskan dari
kesulitan, duka, ataupun tantangan hidup? saya merasa pasti tidak ada
yang bisa berkata aku sudah mengalami hidup yang sempurna, tanpa
masalah, tanpa kekuatiran, dan tanpa tantangan. Semua kita selalu
berjuang untuk suatu hidup yang ideal yang dicita-citakan.

Tokoh-tokoh besar seputar Paskah, seperti Yesus, Maria, Simon dari
Kirene, Veronika, dan para murid menjalani hidupnya dengan tabah dan
konsisten. Mereka menunjukkan dengan jelas pembelaan kepada Yesus, Sang
Tokoh Utama Paskah, yang menderita dan wafat. Hati mereka lurus,
meskipun sebagai manusia biasa, kisah hidup mereka sarat dengan
kerapuhan dan pertanyaan.

Kita pun menjalani hidup dengan iman. Perjuangan dalam puasa dan pantang
membuat kita makin manusia. Kita bukanlah malaikat, sehingga kita perlu
melatih diri yang mau aman, mau enak, mau nyaman, dan mau menang sendiri
menjadi seorang pribadi Katolik yang mawas diri dan murah hati. Kita
ingin menjadi pribadi buatan Allah yang menjadi tokoh-tokoh masa kini
yang aktif berbuat baik bagi sesama yang menderita.

Saya percaya, setiap perayaan Gereka pasti memberi makna yang bisa
memperkaya iman kita. Ketika merayakan, kita ingat juga prosesnya. Duka
tidak harus membuat orang mati langkah. Anak-anak berkebutuhan khusus,
orang tua yang lanjut usia, keluarga miskin, orangtua tunggal, pasutri
yang sedang bermasalah, tidak menjauhkan orang dari Yesus. Dengan
peristiwa itulah, setiap orang akan memperoleh makna hidupnya, meskipun
ia sedang berjuang.

Keluarga-keluarga terkasih, ada baiknya sekali waktu mengajak anak-anak
merayakan paskah di daerah terpencil, kampung halaman, atau di Gereja
yang miskin. Di sana suasana pekan suci lepas dari kemeriahan belakan,
tetapi diperkaya dengan situasi nyata yang mendidik generasi muda, bahwa
hidup bukan hanya menerima dan menikmati, tetapi memberi dan berjuang
sebagai bagian yang biasa dijalani setiap orang. Perjuangan adalah tanda
kekuatan orang yang percaya kepada Allah.

Jangan hilang iman hanya karena peristiwa hidup yang kurang
menyenangkan. Kisah hidup setiap kita berbeda, demikian juga pelajaran
yang harus dipetik setiap orang berbeda. Jangan menyerah, karena kita
akan melihat Tuhan dalam peristiwa itu.

Selamat Paskah, selamat hari kemenangan. Anggaplah selama 40 hari
prapaskah sebagai hari-hari mawas diri dan mendekati Tuhan. Lihatlah
bahwa dalam setiap perjuangan yang ditekuni, Allah memberi kita tambahan
kekuatan hidup yang memenangkan kita dari setiap kesulitan dan
penderitaan. Inilah perayaan kemenangan yang meneguhkan kita bahwa Allah
Sungguh Mengasihi kita sekeluarga. Tuhan Yesus memberkati.

Alexander Erwin MSF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *