Kepengantaraan Maria

maria

Untitled

Banyak dari kita kerap kali berdoa untuk mohon sesuatu kepada Allah dengan perantaraan Bunda Maria (bisa melalui novena, atau ziarah ke gua-gua Maria). Dan persis ketika banyak orang mengatakan bahwa ia berdoa kepada Allah melalui perantaraan Bunda Maria, muncul pertanyaan dalam benakku, bukankah Pengantara kita satu-satunya adalah Yesus Kristus? Lantas bagaimana ‘kepengantaraan’ Maria itu perlu dimengerti?

Ada sebuah ungkapan menarik tentang Maria, “De Maria nunquam satis”. Arti dari ungkapan itu adalah bahwa Maria tidak pernah cukup diperbincangkan, diperdebatkan, dimuliakan. Konon, ungkapan itu dicetuskan oleh para ahli ilmu ketuhanan yang ingin menunjukkan sekaligus menyanjung besarnya nama Maria sebagai Bunda Yesus. Namun demikian, ungkapan itu sebenarnya perlu juga dikhawatirkan karena memiliki cita rasa yang dapat merelatifkan martabat dan daya guna Pengantara tunggal antara Allah dan manusia, yakni Yesus Kristus sendiri. Maka, perlu kita tegaskan kembali bahwa peranan Maria dan tugas Bunda Tuhan Yesus itu sendiri serba khas, tapi tidak pernah mengurangi atau menambah sedikit pun pada peranan Putranya (Lih. LG 62). Di satu sisi kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah Pengantara satu-satunya. Namun di lain sisi, penghormatan yang begitu besar terhadap Maria, justru dapat merelatifkan sifat ‘kepengantaraan’ Yesus Kristus itu sendiri. Maka kita perlu mengerti perihal makna ‘kepengantaraan’ Maria.

Perihal tentang Maria, Konsili Vatikan II sendiri mencoba untuk menghindar dari gelar ‘pengantara segala rahmat’, meski dengan sedikit menahan diri, juga turut mengungkapkan fakta perihal ‘kepengantaraan’ Maria. Akan tetapi fakta itu diwartakan sedemikian rupa sehingga ‘kepengantaraan’ Kristus sendirilah yang utama. ‘Kepengantaraan’ Maria harus dimengerti pada taraf bahwa semua orang yang memerlukan keselamatan, termasuk Maria sendiri, dan bukan pada taraf satu-satunya Juru Selamat yang membawa keselamatan. Hidup surgawi Maria pada hakikatnya bercorak pengantara dalam arti bahwa Maria di surga mendoakan kita yang ada di dunia. Hidupnya berupa tukar cinta kasih yang sempurna dan sekaligus keprihatinan yang penuh harapan.

RD Angga Sri Prasetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *