KITA BHINNEKA, KITA INDONESIA, KITA BERSATU

Komsos Cilangkap-Bersatu

11009176_10205417931959268_7004571209011153478_nPuji syukur pada Tuhan sebagai umat Katolik kita hidup di Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Bagi umat Katolik Pancasila adalah berkat dari Allah karena sesuai dengan kehendak Allah yang memberikan hukum utama dan terutama.

“Kasihilah Tuhan,  Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” Matius 22:37-39

Dalam Pancasila terkandung kasih pada Tuhan (sila 1) dan cinta kepada sesama dan diri pribadi (sila 2-5). Mengamalkan Pancasila berarti melakukan Hukum Tuhan yang utama. Pancasila membantu kita mengejawantahkan Hukum Kasih sebagai hukum yang terutama secara vertikal dan horizontal…

Bagian terpenting dari mengamalkan Pancasila adalah membangun komunitas kasih yang bebas dari ketakutan. Di dunia ketakutan merajalela. Orang takut sakit, takut miskin, takut tidak berkuasa, takut tidak terjamin hidupnya, takut kehilangan… pendek kata takut melahirkan ancaman, permusuhan, dan agresivitas.

Cinta melenyapkan ketakutan…

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
1 Yohanes 4:18-21

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas yang terdiri dari beragam suku bangsa, adat istiadat, bahasa dan agama; namun semua keberagaman itu sesuai dengan dasar negara kita PANCASILA dengan pemersatu Bhinneka Tunggal Ika harus kita hormati dan imani karena sejalan dengan Hukum Kasih yang merupakan hukum yang terutama dalam ajaran Tuhan Yesus. Seperti tubuh kita memiliki beragam anggota tubuh dengan tugas masing-masing yang saling melengkapi dan sama pentingnya.  Semuanya merupakan beragam karunia namun satu tubuh yang tidak dapat dipisahkan; malahan saling melengkapi.

Dalam Kasih kita tidak mengenal perbedaan; kita hanya mengenal keberagaman seperti si kaya dan si miskin, si hitam dan si putih, si sipit dan si mata lebar dan lain-lain; dalam kasih kita saling menghormati dan menghargai. Seperti Yesus yang tidak pernah melihat perbedaan namun yang dilihat adalah keberagaman; terlebih Yesus si Maha Pemaaf dan selalu terbuka bagi para pendosa yang mau bertobat. Yesus bak seorang Bapa yang selalu menunggu putranya yang hilang untuk pulang ke rumah dan memeluknya dalam kehangatan kasih.

“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.”
1 Korintus 12:12

Hal paling terasa dalam kehidupan umat Katolik terutama saat Kamis Putih ketika para Imam merendahkan dirinya dengan membasuh dan mencium kaki umat pemeluk agama non Katolik, umat yang dijauhi atau dicemooh masyarakat, umat yang kuramg beruntung dan lainnya… Merendahkan diri seperti ini bukan sebagai tanda keminderan atau tanda kelemahan namun sebagai bukti nyata akan kebesaran Kasih yang memampukan kita untuk melayani dengan Kasih tanpa pamrih dan semuanya hanya untuk Kemuliaan Tuhan.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga; kiranya memampukan kita untuk melihat keberagaman dalam diri putra-putri kita yang tentunya memiliki keunikan, kemauan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila kita dapat melihat dengan mata hati kita secara jernih tentu akan sukar ditemui sikap dan tindakan orangtua yang memaksakan kehendak kepada putra putrinya maupun sebaliknya putra putri yang merasa orangtuanya bersikap kolot dan kuno; yang tinggal hanyalah rasa saling mengerti, menghargai dan menghormati sehingga damai dan harmoni dalam keluarga akan terasa.

Bila kita menemukan perbedaan, baiknya kita sebagai umat Katolik yang penuh kasih melihatnya sebagai keberagaman sehingga tidak mudah terprovokasi karena kita cinta perdamaian dan persatuan.

Bila kita dipengaruhi untuk korupsi, baiknya kita sebagai umat Katolik yang penuh kasih tidak tergoda ikut korupsi karena kita mencintai saudara-saudara kita dan tidak tertarik untuk merugikan masyarakat luas.

Bila kita dikecewakan, baiknya kita sebagai umat Katolik tidak mudah putus harapan karena Yesus selalu setia dan tidak pernah mengecewakan kita hingga mengorbankan diri-Nya sendiri untuk menebus dosa kita.

Kiranya kebhinnekaan yang ada memperkaya hidup kita dan hanya berpusat kepada yang SATU.

Seringkali yang banyak terjadi adalah perbedaan yang dimaksudkan sebagai kategori atau tipe dijadikan ajang pengkotak-kotakan hubungan antar manusia; apakah itu perbedaan agama atau keyakinan, perbedaan suku atau ras, perbedaan type/ kategori profesi. Rasa ke-aku-an yang tinggi bahwa milikku/ kalanganku adalah lebih baik, lebih bagus daripada yang lain; bahwa diluarlu adalah lebih rendah dari aku. It is so yesterday yang membawa budaya feodalisme zaman penjajahan dahulu. Manusia yang kekinian or kids zaman now adalah manusia Indonesia yang meyakini dan mengamalkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti Sir Winston Leonard Spencer Churchill yang pada suatu saat berpapasan dengan seorang wanita dan menganggukan kepala sambil mengangkat topinya sedikit sebagai kebiasaan menyapa dengan memberikan kehormatan; namun temannya menegurnya karena sebagai Perdana Menteri tidak perlu menyapa dengan kehormatan seperti itu kepada perempuan yang berprofesi sebagai wanita malam. Namun apa jawab Sir W. Churchill adalah “sahabatku, saya mengangkat topi bukan karena siapa dia, tapi saya lakukan justru karena siapa saya”.

“Saya adalah orang yang sopan & saya biasa menyapa setiap orang tanpa membeda-bedakan orang tersebut apa pun itu pekerjaannya, buat saya setiap Individu adalah ciptaan Tuhan yang berharga dan oleh karenanya harus saya hormati.”

Hal ini juga dilakukan oleh Presiden NKRI Bapak Joko Widodo yang seringkali mengundang masyarakat awam ke istana negara tanpa membedakan pangkat atau jabatan dan bertemu dengan ibu Mooryati Soedibyo dengan bersalaman dan menundukkan kepala untuk menghormati orangtua.

Sungguh jawaban yang sangat luar biasa dan mencerminkan sebuah sikap dan karakter dari seorang yang memiliki budi luhur yang luar biasa. Hal ini patut kita tiru dalam kehidupan sehari-hari saat kita berinteraksi dengan orang yang berpangkat/ bermartabat lebih tinggi vs lebih rendah. Selayaknya kita tidak membeda-bedakan perlakuan kepada mereka semua; terutama sebagai umat Katolik yang berporos pada KASIH.

Sungguh sangat memprihatinkan kalau masih menemukan manusia yang bangga dengan kotak-kotak dan garis batas yang tebal dan merasa saya lebih daripadamu; karena Yesus menciptakan manusia dari tanah dan diberikan hembusan nafas kehidupan dari nafas-Nya sendiri; tanpa wakil, tanpa asisten. Bila kita menghargai nafas yang diberikan Yesus kepada domba-dombanya di dunia dengan nafas yang sama tanpa privilege maka layaklah kita mencintai saudara-saudara kita dengan cara pandang dan perlakuan yang sama, saling menghargai, saling menghormati dengan penuh Kasih yang diajarkan Yesus.

Kiranya kita sebagai umat Katolik harus selalu mengimani ajaran Yesus yang terutama “KASIH” dan dasar NKRI “PANCASILA” dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Maka NKRI yang kita cintai akan mencapai Harmoni dalam Perbedaan yang patut selalu kita jaga dan kita bawa dalam doa kita agar NKRI ini dapat menjadi berkat bagi kita semua.

RD Thomas Aquino Rochadi  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *