Semut dan Sang Pahlawan Kakak Tua

Untitled

 

Pagi itu, di lereng Gunung Kelud, cuaca tidak seperti biasanya. Banyak hewan resah berlarian kesana kemari. Tidak terkecuali seekor kakak tua yang bertengger di atas pohon jati. Dia berlompat-lompatan dari satu dahan ke dahan yang lain. Setiap melompat, dia selalu menggigit tangkai dedaunan dan menjatuhkan ke atas tanah. Si burung kakak tua tidak menyadari bahwa akibat ulahnya menjatuhkan dedaunan, menimpa kerajaan semut yang ada di tanah.

“Hei, siapa yang berani mengotori kerajaanku!” bentak Raja Semut. “Tumpukan dedaunan ini mengakibatkan kerajaanku tidak mendapatkan sinar matahari”. “Semua ini akibat ulah si Kakak Tua,” kata rakyat semut. “Berani sekali dia mengotori kerajaanku. Wahai rakyatku, Panggil Kakak Tua itu.. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya!”

Rakyat semut bersiap-siap memanggil si Kakak Tua. Ketika para semut akan keluar, tiba-tiba mereka mendengar bunyi gemuruh. Suara batu-batu kerikil berjatuhan seakan-akan menimpa kerajaan mereka. Seluruh rakyat semut menjadi ketakutan. “Semua segera kembali masuk rumah! Selamatkan diri kalian!” teriak semutsemut sambil berlarian. Di dalam rumah, seluruh semut semakin ketakutan dan tersadar bahwa Gunung Kelud sedang meletus. “Biasanya kerajaan kita dipenuhi pasir dan kerikil ketika gunung meletus. Tetapi mengapa saat ini tidak terjadi?” “Benar juga. Kerajaan kita sama sekali tidak tersentuh hujan pasir dan batu kerikil. Bagaimana bisa?” seru semut lain keheranan.

Setelah bunyi gemuruh reda, beberapa semut memberanikan diri keluar. Mereka melihat tumpukan daun yang dijatuhkan oleh Kakak Tua ternyata

melindungi kerajaan semut dari hujan pasir dan batu kerikil. “Ternyata hewan yang selama ini kita

maki, kita anggap tidak sopan, jorok dan bodoh telah melindungi kerajan kita dari keganasan Gunung Kelud,” kata semut yang satu. Seharusnya kita meminta maaf sekaligus berterima kasih padanya,” ujar semut lainnya. “Ayo kita segera mencari sang pahlawan. Kita segera cari si kakak tua!”

“Keeek… keeek… Siapa yang kalian cari? “ terdengar teriakan dari di balik tumpukan daun. “Ternyata pahlawan kita ada di sini. Hidup kakak tua! Hidup pahlawan kita!”

teriak seluruh semut. “Ah, kalian jangan berlebihan. Bukankah kita hidup di dunia ini harus saling tolong menolong,” jawab Kakak Tua.

Ia pun melanjutkan, “Mari kita saling hidup rukun dan saling membantu,” sambal berjabat tangan dengan seluruh rakyat semut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *